SEJARAH PAROKI SANTO MARKUS DEPOK TIMUR

Langkah awal perkembangan Gereja Katolik Santo Markus Depok II Timur
mulai dirintis pada bulan Desember 1979 oleh L. Supratjojo, Fx. Sastro Prajitno,
dan PC. Sudirman, yaitu awal penghunian Perumnas Kawasan Depok II Timur.
Langkah tersebut dilakukan dengan mencari nama dan alamat umat Katolik dari
pintu ke pintu dan juga melalui kantor Perum Perumnas Kawasan Depok II Timur,
khususnya dari daftar penghunian yang ada di sana.

Dari usaha tersebut, maka pada bulan Februari 1980 telah terhimpun umat
Katolik sebanyak 26 Kepala Keluarga (KK). Dengan terhimpunnya 26 Kepala
Keluarga tersebut, penghimpunan umat selanjutnya berjalan dengan lancar, kendati
informasi itu dilakukan dari mulut ke mulut.

Sebelumnya, yaitu pada tanggal 20 Januari 1980 PC Sudirman dengan Th Sadadi
menemui Pastor Y Suparman, Pr di Cibinong. Dari hasil pembicaraan tersebut,
Pastor Y Suparman Pr menyatakan akan segera berkunjung ke Depok Timur
sekaligus menyanggupi untuk menjadi Pembina.

Selanjutnya pada tanggal 7 Februari 1980 di rumah keluarga Th Sadadi, yaitu di
Jalan Lesung II nomor 228 diadakan perayaan Ekaristi yang dihadiri 35 orang.
Perayaan Ekaristi ini adalah yang pertama kali diadakan di Kompleks Perumnas
Kawasan Depok II Timur. Kemudian, perayaan Ekaristi masih terus dilaksanakan
sekalipun dengan tempat-tempat yang berpindah-pindah.

Setelah perayaan Ekaristi tanggal 7 Februari 1980 tersebut dilanjutkan pertemuan
sebagai perkenalan. Atas anjuran Pastor Y Suparman, Pr, yang saat itu kebetulan
memimpin ibadat, maka diadakan pemilihan pengurus lingkungan. Dalam
pertemuan tersebut disepakatilah pengurus lingkungan dengan susunan: Fx. Sastro
Prajitno (Sebagai Penasehat), Y. Lakon (Ketua), L Supratjojo (Wakil Ketua), PC.
Sudirman (Sekretaris), Th Sadadi (Bendahara). Dengan terbentuknya pengurus
lingkungan tersebut, saat itu pulalah Paroki Depok II Timur mulai tumbuh dan
berkembang.

Kegiatan-kegiatan umat untuk selanjutnya juga masih amat terbatas. Misa
diadakan setiap hari minggu dengan mengambil tempat dan waktu yang masih
belum menentu. Dengan kegiatan misa yang berpindah-pindah dan waktu yang
tidak pasti itu di sisi lain amat membantu dalam penghimpunan umat. Atas
kesediaan keluarga Y. Lakon, maka kegiatan perayaan Ekaristi Kudus ditetapkan di rumah keluarga Y. Lakon dengan mengambil waktu pukul 17.00 WIB.

Usaha Membangun Kapel
Walaupun lingkungan sudah terbentuk, namun kegiatan-kegiatan umat saat itu
masih sangat sedikit jumlahnya, bahkan itu pun mulai dirintis. Atas dorongan
Pastor Pembina, para pengurus lingkungan sepakat untuk merintis pembangunan
gedung ibadat sementara (Kapel). Pada tanggal 31 Maret 1980 dimulailah
pengurusan izin dan persyaratan pembangunan gedung kepada Perum Perumnas
dan Pemerintah Daerah. Setelah hamper tiga bulan, maka pada tanggal 24
November 1980 Surat Izin Prinsip dari Pimpinan Perumnas telah berhasil terbit.
Pada surat tersebut juga ditunjukkan lokasinya, yaitu di Jalan Kerinci Ujung atau
sisi jalan Dempo Raya.

Pada tanggal 9 Desember 1980 pembangunan fisik dimulai. Dana yang berhasil
dikumpulkan dari umat berwujud bahan bangunan dan uang. Pembangunan gedung
yang berukuran lebih kurang 8 x 15 meter itu pada perayaan Natal 1980 sudah
dapat digunakan untuk perayaan Ekaristi Malam Natal. Walaupun kondisinya
belum memadai karena lantainya masih berupa tanah dan dinding belum diplester
dengan semen, namun hal itu tidak mengurangi khidmatnya melaksanakan
perayaan Ekaristi Natal.

Berkat kerja sama umat dan seiring dengan makin bertambahnya umat baru,
khususnya para penghuni Perumnas, maka pembangunan gedung Gereja yang
menelan biaya hampir Rp 4.000.000,00, maka pada bulan Juni 1982 gedung Gereja
tersebut selesai. Dengan selesainya pembangunan gedung Gereja yang masih
bersifat sementara ini, maka setiap perayaan Ekaristi dipindahkan dari keluarga Y.
Lakon ke gedung baru tersebut.

Untuk memperlancar komunikasi dan kerja sama, maka lingkungan Depok II
Timur dibagi dalam kelompok yang mengikuti nama Blok pada Perumnas tersebut.
Mulai saat itu pula kegiatan-kegiatan pembinaan dan pelayanan mulai dirintis.
Kegiatan-kegiatan itu antara lain Sekolah Minggu, pengajaran agama untuk
katekumen dewasa, persiapan perkawinan, dan doa bergilir.

Dari kegiatan-kegiatan yang bersifat pewartaan dan pembinaan tersebut, maka
selama tahun 1980 telah membaptis umat baru, yang terdiri atas anak-anak
sebanyak 18 orang anak, 6 orang dewasa, 11 orang peserta Krisma, dan 5 pasang
pemberkatan pernikahan. Seiring dengan itu pula, maka terbentuklah beberapa
perkumpulan umat, yaitu Rukun Ibu-ibu Katolik (RIKA) yang dibentuk pada
tanggal 2 Maret 1980, Perkumpulan Muda-mudi Katolik (Mudika) yang terbentuk
pada tanggal 28 September 1980.

Atas anjuran dan restu Bapa Uskup Bogor serta didukung oleh Pastor Pembina,
maka pada tanggal 21 November 1980 berdirilah Yayasan Bintang Timur yang
mengelola sebuah Taman Kanak-kanak dengan nama “Santo Yoseph”. Tempat
kegiatan belajar-mengajar TKK tersebut dilaksanakan di Kapel pada hari-hari kerja
biasa atau selama Kapel tidak digunakan untuk kegiatan ibadat.

Status sebagai Stasi
Pada tanggal 15 Februari 1981 dalam suatu rapat lingkungan yang dihadiri
oleh pengurus lingkungan dan kelompok serta dihadiri oleh Pastor Pembina Y.
Suparman, Pr, disetujui bahwa Lingkungan Depok Timur harus ditingkatkan
statusnya menjadi stasi.
Hal tersebut dipertimbangkannya bahwa jumlah umat yang semakin bertambah
tentunya yang diiringi pula oleh semakin bertambahnya para penghuni Perumnas
Depok II Timur tersebut yang saat itu sudah mencapai 75 Kepala Keluarga. Dan
atas saran dan anjuran Pastor Pembina, Stasi Depok II Timur menggunakan nama
pelindung “Santo Markus”.

Dengan demikian, karena Lingkungan telah berubah menjadi Stasi, maka
kelompok yang menggunakan nama Blok tadi dinaikkan statusnya menjadi
Lingkungan. Saat itu pula Stasi Santo Markus mempunyai 6 Lingkungan, yaitu
Lingkungan Santo Benediktus, Lingkungan Santa Theresia, Lingkungan Santo
Blasius, Lingkungan Santa Christina, Lingkungan Santo Yustinus, Lingkungan
Santo Ignatius, dan pada tahun 1984 bertambah 1 Lingkungan lagi, yaitu
Lingkungan Santo Bertinus yang wilayahnya berada di komplek Perumahan Pelni
Kampung Sugutamu.

Setelah berhasil mengembangkan karya pelayanannya di Paroki ini, maka akhir
tahun 1981 Pastor Y Suparman , Pr. dialihtugaskan ke Keuskupan Bogor dan
digantikan oleh Pastor A Brotowiratmo, Pr. Semasa Pastor A. Brotowiratmo, Pr.
berkarya, maka keadaan umat sudah lebih mantap, karena tempat pusat kegiatan
sudah ada.
Kegiatan umat juga semakin meningkat, jumlah umat semakin bertambah yang
saat itu tercatat sekitar 192 Kepala Keluarga, dan kegiatan Liturgi pun semakin
semarak. Bahkan, dalam masa pembinaan Pastor A. Brotowiratmo, Pr. ini, proyek
yang cukup besar adalah pembangunan gedung gereja permanen. Modal proyek ini
adalah uang sisa dari pembangunan kapel berupa uang kontan yang saat itu sebesar
Rp 512.175,00 dan bahan bangunan senilai Rp 104.000,00.

Salib Besar
Pada bulan April 1983 dimulailah pekerjaan fisik dengan mengerahkan umat untuk
kerja bakti menggali lubang fondasi. Dalam usaha pembangunan gedung gereja
permanen ini tidak bisa dilupakan peran dan jasa FX Hambali, seorang arsitek
yang juga menjadi Ketua Wilayah di Paroki Santo Yohanes Penginjil Blok B
Kebayoran Baru Jakarta.
Setelah hampir 4 tahun umat berjuang menghimpun dana, maka pada tanggal
18 Desember 1998 salib besar berhasil dipasang. Salib besar tersebut harganya
mencapai 1,6 juta itu adalah karya pemahat asli dari Jepara yang bernama Sumiat
dengan manajernya Bachrin.
Mereka adalah seorang Muslim yang sangat taat, namun dalam pengerjaan Salib
tersebut mereka tidak segan-segan untuk memandang salib modelnya serta Kain
Kafan dari Turin sebagai referensinya. Pada tanggal 21 April 1989 gedung yang
menelan biaya lebih dari Rp 92.000.000 itu selesai dan pada tanggal 11 Februari
1990 Bapa Uskup (saat itu Mgr Ign Harsono, Pr.) memberkati gedung Gereja dan
diresmikan oleh Wali Kota Kotif Depok, yaitu Drs Abdul Wachyan.

Kelompok-kelompok Kegiatan
Semasa pelayanan Pastor A. Brotowiratmo, Pr itu pula mulailah dikembangkan
beberapa kegiatan-kegiatan Gereja. Kerasulan Doa Maria Fatima (KMF) untuk
Depok II Timur disahkan pada tanggal 6 Maret 1983. Kelompok ini sangat
mendukung dalam pembinaan iman umat melalui devosi kepada Maria.
Setiap Lingkungan kegiatan doa tersebut dilaksanakan secara bergiliran dan
berjalan dengan rutin yang diikuti dengan latihan Koor. Begitu pula untuk
perayaan Ekaristi digilir per lingkungan.
Mengingat jumlah umat yang kian bertambah, tidak mustahil persoalan-persoalan
kehidupan umat yang dihadapi pun semakin bertambah pula. Oleh sebab itu, Pastor
Pembina mengadakan kunjungan keluarga yang terjadwal secara teratur untuk
melayani umat yang bermasalah ataupun sekadar kunjungan silaturahmi. Selain itu,
pengajaran agama kepada anak-anak yang menangani anak-anak sekolah negeri
juga dilakukan oleh pengurus Stasi yang ditampung di Sekolah Minggu. Yang
lebih membanggakan adalah berhasilnya Stasi Santo Markus mengadakan kerja
sama dengan SMP Negeri 3 Depok untuk ikut memberi pelajaran agama Katolik di
sekolah tersebut bagi anak-anak yang beragama Katolik.
Di bidang sosial, ibu-ibu RIKA selalu mengadakan kunjungan ke Panti-panti
Asuhan, di antaranya pada tahun 1983 yang mengadakan kunjungan di Panti
Asuhan Cilincing, Jakarta Utara. Pada tahun 1984 melaksanakan kunjungan ke
Panti Asuhan Boro Kulon Progo Yogyakarta, sekaligus ziarah ke Gua Maria
Sendang Sono. Bulan Agustus 1990 Pastor A. Brotowiratmo, Pr. dialihtugaskan ke
Keuskupan Bogor dan digantikan oleh Pastor Paroki Cibinong, yaitu Pastor Frans
Lorry, Pr.

Semasa jabatannya dikembangkan pula struktur wilayah pelayanan lingkungan.
Sekitar tahun 1993 seiring perkembangan Real Estate di sekitar Kompleks
Perumnas, maka wilayah pelayanan Lingkungan Benediktus yang umatnya
melebihi 100 Kepala Keluarga, dikembangkan menjadi 2 Lingkungan, yaitu
Lingkungan Santo Benediktus dan Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius. Semasa
Pastor Frans Lorry, Pr proyek yang sangat besar adalah pembangunan gedung
pastoran. Pembangunan ini dimulai pada tanggal 3 Desember 1990 dan selesai
pada tanggal 20 Agustus 1993 dengan menghabiskan biaya sebesar kurang lebih
Rp 66,6 juta.

Depok Timur Menjadi Paroki St. Markus.
Dengan selesainya gedung Pastoran ini, Stasi Santo Markus rasanya sudah
layak untuk menjadi sebuah Paroki. Permohonan serta harapan umat yang sudah
mencapai 500 Kepala Keluarga itu disetujui oleh Bapa Uskup. Pada tanggal 20
November 1994 Stasi Santo Markus diresmikan menjadi Paroki “Santo Markus”
oleh Bapa Uskup Mgr Michael Cosmas Angkur, OFM yang sekaligus pula
melantik Dewan Paroki. Upacara tersebut dilaksanakan dalam suatu perayaan
Ekaristi.

Pada saat peresmian Paroki “Santo Markus” itu pula, maka Pastor Christoforus
Lamen Sani, Pr. langsung menjabat sebagai Pastor Paroki. Beliau berkarya
di Paroki “Santo Markus” sekitar 2 tahun yang kemudian pada tahun 1997
dipindahkan ke Paroki “Santo Fransiskus” Sukasari Bogor. Sempat pada masa
jabatannya itu, beliau melaksanakan pengadaan kendaraan dinas Paroki.

Pada bulan Januari 1997 dilaksanakanlah serah terima jabatan Pastor Kepala
Paroki dari Pastor Christoforus Lamen Sani, Pr. kepada Pastor Tarsisius Suyoto,
Pr. yang disaksikan oleh Bapa Uskup Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dalam
perayaan Ekaristi. Pada saat itu pula Paroki Santo Markus Depok II Timur terbagi
atas 8 wilayah dan 19 lingkungan.
Baru menjabat sekitar 1 tahun sebagai Pastor Kepala Paroki, Pastor Tarsisius
Suyoto, Pr. telah berhasil mengadakan renovasi gedung gereja dan perbaikan
gedung Kapel yang lama dan dijadikan Gedung Serba Guna. Kemudian berhasil
pula melengkapi Gereja dengan peralatan-peralatan Liturgi yang lebih memadai, di
antaranya Relief Peristiwa Jalan Salib yang terbuat dari Fiber Glass.

Perjalanan panjang Paroki “Santo Markus” di atas tidak akan berakhir di situ saja.
Masih begitu panjang perjalanan yang harus ditempuh. Tentunya dengan suatu
keyakinan bahwa Tuhan tidak akan diam untuk umat-Nya yang terus berkarya
untuk memuji-Nya serta menyampaikan Penyelamatan-Nya ini. Kita selalu berdoa
saja.
Sumber dok : Ign. Wasiran, Th. Sadadi, A.C.Tukiman
Url: http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depokII.htm

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*