SANMARDEPOK.COM – Setiap bangunan gereja selalu memiliki simbol dan makna tertentu. Ada bangunan gereja yang dikenal , karena ornamen, bentuk, letak dan dan sebagainya. Kalau mencermati bangunan Gereja Katolik St Markus Depok II Timur, seperti apakah gereja ini. Gereja ayam?

Tentu saja bukan, karena tidak ada simbol ayam di atas bangunan ini. Dari jauh bangunan ini seperti tidak ada bentuk sebuah gereja. Sebab, dari jauh yang jelas kelihatan sebagai gereja, justru bangunan gereja Huria Kristen Batak (HKBP) yang ada di seberang jalan, karena ada menara berikut salibnya.

Gereja St Markus tak memiliki menara dan salib di atas atapnya seperti bangunan Gereja Katolik pada umumnya. Mungkin tak salah kalau ada yang menyebut bangunan Gereja St Markus mirip rumah gadang atau betang di Kalimantan yang besar.

Ada pula yang menilai, bangunan Gereja St Markus ada nuansa Jawanya, mungkin karena umat di paroki ini umumnya adalah orang Jawa. Buktinya, bentuk-bentuk depan dan pintu gereja ini banyak mengambil bentuk bangunan budaya Jawa.

Namun, Anton Tedjo salah seorang umat dari Wilayah St Aloysius Gonzaga menegaskan, bentuk gereja St Markus tidak mengikuti satu etnis apa pun. Gereja tersebut, sepertinya dirancang untuk universal atau untuk umum, karena Katolik sendiri berarti umum.

AC Tukiman salah seorang perintis berdirinya Gereja Paroki St Markus juga menuturkan, sepintas gedung gereja St Markus tak mirip gereja. Dia secara kelakar menilai, gereja St Markus Depok dari luar mirip bangunan pabrik.
Tukiman pun tidak bisa memastikan, apakah FX Hambali yang merancang bangunan gereja ini sekitar April 1983 memikirkan arsitektur atau tidak. Tetapi, yang jelas Hambali adalah seorang lulusan sekolah teknik menengah (STM) dan berprofesi sebagai pemborong jasa konstruksi/bangunan.

Artinya, pasti dia memiliki pengetahuan teknik bangunan. Namun, sekali lagi apa filosofi bangunan gereja yang dirancang Hambali tersebut, sepertinya tak banyak yang tahu atau tak ada yang sempat menanyakannya.

AC Tukiman pun hanya melihat sisi positifnya dari bangunan yang ada sekarang. Menurutnya, mungkin tak terlalu penting ketika gereja ini dibangun apa filosofi dan bentuknya, tetapi yang penting gereja tersebut bisa menampung umat yang mulai berkembang.

Apalagi, ketika gereja ini dibangun, Hambali sebagai pemborong tidak hitung-hitungan. Kadang-kadang biaya dibayar belakangan, yang penting bangunan jadi dulu biar ada tempat bagi umat yang rindu beribadat, soal bentuknya tidak terlalu penting.

Tapi apakah benar bangunan Gereja St Markus Depok II Timur tak mirip gereja? Tentu dapat dimaklumi kalau ada penilaian seperti itu, karena kenyataannya memang dari jauh tidak tampak ada simbol gereja, sehingga kalau ada orang baru yang mencari gereja ini kesulitan.

Lalu, seperti apakah bangunan gereja St Markus ini? Meski seorang pengusaha, Hambali adalah seorang aktivis gereja yang ketika itu sebagai salah seorang Ketua Wilayah di Paroki St Yohanes Penginjil Blok B Kebayoran Baru Jakarta, sehingga bagaimana pun dia pasti punya pertimbangan tertentu ketika membangun gereja ini

Karena itu, bentuk dan filosofi Gereja St Markus Depok II Timur pun bisa dicermati seperti apa gerangan. Dan kalau diperhatikan secara saksama, akan tampak bahwa ternyata gereja St Markus yang kita cintai ini mirip sebuah perahu yang siap berlabuh.

Bertolak Lebih Dalam
Kalau dicermati, Gereja St Markus Depok II Timur menghadap ke utara dan bangunan bubung di utara mirip buritan kapal atau perahu. Arah gereja ini pun segaris atau memanjang mengikuti jalan menurun.
Karena itu, filosofi bangunan Gereja St Markus Depok II Timur memang ibarat sebuah perahu besar atau kapal yang siap berlabuh ke perairan yang lebih dalam. Filosofinya persis dengan ajakan Yesus kepada para muridnya untuk bertolak lebih dalam.

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. ” (Luk 5:4). Simon menjawab: Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak (Luk 5:4-6).

Seperti Simon atau Petrus bertolak lebih dalam dan menangkap ikan lebih banyak, demikian pula para pendahulu Gereja Paroki St Markus Depok II Timur. Para pendiri seperti L. Supratjojo, FX. Sastro Prajitno, dan PC. Sudirman, Y. Lakon Th. Sadadi, AC Tukiman, Ignatius Wasiran, dan sejumlah nama lainnya yang tak mungkin disebut satu per satu, telah membuat Gereja “Perahu” St Markus bertolak lebih dalam lagi. Hasilnya, sudah dapat dilihat, yakni hasil jalanya melimpah, yakni umat paroki ini yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Tidak hanya mereka para pendiri yang bertolak lebih dalam, semua umat di gereja ini pun hendaknya bertolak lebih dalam, sehingga hasilnya melimpah. Karena itu, kita pun harus bangga dengan bentuk dan filosofi Gereja St Markus yang mirip perahu tersebut.

Awalnya, bangunan gereja ini memiliki pintu samping kiri dan kanan, bahkan di sebelah utara pun terbuka. Namun, untuk keamanan dan kenyamanan umat, akses ke utara pun ditutup ketika gereja ini direnovasi di zaman Romo RD Marcus Santoso tahun 2006.

Untuk ventilasi yang cukup pun, pintu samping kiri kanan pun ditutup dan diganti dengan sistem jendela lipat yang memungkinkan udara segar lebih banyak masuk. Dengan jendela lipat kiri kanan ini pun memuat umat lebih banyak.

Demikian pula plafon bentuknya tetap dipertahankan ketika direnovasi. Hanya saja, lebih tinggi, yakni dari 7 meter menjadi 11 meter seperti sekarang, sehingga relatif tidak terlalu panas, apalagi di atapnya terdapat dua pasang heksos.

Lukisan Singa
Di beranda, terdapat lukisan timbul singa yang menjadi simbol St Markus penginjil. Lukisan St Markus yang dipasang di zaman Romo Markus ini, memang ingin agar umat paroki ini memiliki semangat juang seperti singa, tetapi lemah lembut dalam melayani sesama umat dan masyarakat pada umumnya.

Di dalam gereja terdapat Salib Yesus dengan korpus. Salib tersebut terbuat dari kayu jati berkualitas.

Salib ini justru dibuat oleh orang yang beragama Muslim. Meskipun beragama non-Katolik, tetapi ketika membuat salib tersebut, dia berpuasa.

Lain lain yang penting dalam ruangan Gereja St Markus adalah Tabernakel yang letaknya persis di bawah salib besar. Tabernakel adalah tempat bertahkta Tuhan Yesus, sebab Yesus hadir di sini dalam rupa hosti atau roti yang telah dikonsekrasi.

Karena itulah, setiap orang Katolik percaya bahwa Yesus sungguh hadir setiap saat dalam gereja. Dan karena itu pula, maka altar bagi gereja Katolik sangat sakral, karena Tuhan hadir di sini, sehingga tidak boleh umat naik sembarangan ke altar suci tersebut tidak dengan hormat.

Tabernakel dilengkapi dengan lampu yang menyala terus sebagai simbol Yesus Kristus cahaya abadi. Itu sebabnya, ketika orang masuk ke gereja, biasanya didahului dengan pengambilan air suci di depan pintu masuk lalu melakukan tanda salib dan seterusnya bersujud.

Sujud itu bukan bermaksud menghormati orang-orang di dalam gereja, bukan menghormati salib dan patung-patung dalam gereja. Sujud atau berlutut itu menunjukkan sikap hormat dan sembah sujud kepada Allah atau Yesus sendiri yang sungguh hadir dalam gereja tersebut yang ditandai dengan Tabernakel.

Di depan Tabernakel, terdapat altar tempat mempersembahkan perayaan Ekaristi. Altar gereja St Markus sendiri, dihiasi dengan lukisan perjamuan kudus bersama 12 murid.

Mimbar Tuhan
Lalu di samping kanan altar terdapat mimbar untuk membaca Kitab Suci yang letaknya lebih tinggi dari mimbar sebelah kiri untuk membaca doa atau pengumuman penting lainnya.Mimbar sebelah kanan sengaja diletakkan lebih tinggi, karena merupakan tempat membaca Sabda atau Firman Tuhanatau mimbar untuk Tuhan. Allah hadir dalam pembacaan Sabda-Nya oleh para romo, frater, atau lektor/lektris dan pemazmur, sebab mazmur termasuk f\Firman Allah sendiri.

Karena itu, mimbar sebelah kanan tersebut, sama dengan altar, sehingga hendaknya tidak digunakan sembarangan. Kalau ada pengumuman penting atau pun sekedar latihan, sebaiknya menggunakan mimbar sebelah kiri yang letaknya lebih rendah.

Di samping kiri mimbar, ada patung Bunda Maria (kiri). Karena itu, umat sering berdoa kepada Yesus melalui perantaraan Bunda Maria dengan memandangi patung tersebut. Di bawah patung ini, sering digunakan untuk pembuatan gua/kandang Natal.

Sementara di samping kanan mimbar, terdapat patung St Yoseph, bapa piara Yesus. Di bawah patung ini juga merupakan tempat petugas koor/paduan suara dan organis yang mengiringi setiap perayaan Misa di gereja ini.

Jalan Salib
Masih dalam ruang gereja terdapat relief prosesi jalan salib yang terbuat dari fiber glass. Letaknya bisa dilihat di sisi kanan kiri dan belakang gereja.
Fasilitas ini ada sejak Pastor Tarsisius Suyoto Pr bertugas di paroki ini. Setiap Jumat pada masa prapaskah, digelar prosesi Jalan Salib dengan 14 perhentian untuk mengenang dan merefleksikan kisah sengsara dan wafat Yesus.

Gua Maria
Kalau bergeser ke sebelah kanan luar ruang gereja, terdapat kanofi dan gua Bunda Maria. Gua Maria ini dibangun oleh Romo Yono, kemudian direnovasi dan diberkati oleh Romo RD Marcus Santosa.
Setiap hari Senin pukul 17.30, kelompok doa Kerasulan Maria Fatimah selalu berdoa di sini. Bahkan, setiap tanggal 13 Mei hingga 13 Oktober tempat ini ramai dengan kedatangan peziarah Maria Fatimah dari beberapa paroki di dekanat utara, Keuskuoan Bogor, bahkan dari Keuskukan Jakarta dan daerah lainnya.

Patung Pieta dan Keluarga Kudus
Di sebelah kanan ruang gereja St Markus Depok, terdapat replika patung Pieta. Patung Pietà (1498-1499) adalah sebuah patung marmer karya Michelangelo yang terletak di basilika Santo Petrus di Roma, Italia yang merupakan karya pertama dari sekian banyak karya dengan tema yang sama oleh Michelangelo.

Patung tersebut dibuat sebagai monumen di makam kardinal Perancis Jean de Billheres, tetapi kemudian dipindahkan ke lokasinya yang sekarang, kapel pertama di kanan basilika pada abad ke-18. Karya ini menggambarkan tubuh Yesus di pelukan ibunya Maria setelah penyaliban Yesus.

Dengan melihat patung bernuansa Prapaskah ini, umat dapat merenungkan dan merefleksikan bagiamana penderitaan dan pengorbanan Maria begitu sedih dengan kematian Yesus anaknya. Diharapkan, umat pun sepanjang hidup merefleksikan dan meningtrospeksi diri, apakah kita tidak termasuk menyalibkan Yesus lewat perbuatan dosa kita?

Sementara di sisi kiri ruang gereja juga terdapat patung Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosef. Dengan melihat patung bernuansa Natal ini, umat dapat merenungkan bagaiamana Keluarga Kudus yang sedang bersama-sama mengalirkan suasana hangat dalam hati kita, dapat dapat diterapkan dalam keluarga kita pula.

Ruang Sakristi
Di sebelah kiri gereja bagian utara, terdapat ruang panti imam atau Sakristi. Ruang ini sifatnya sakal, sehingga tidak sembarang orang masuk ke sana kecuali romo, frater, suster atau para petugas liturgi termasuk prodiakon, lector/lektris, pemazmur, dan misdinar.

Di samping St Tarsisius, yakni tempat pertemuan para misdinar atau putra-putri altar. Ruang ini pun sering difungsikan sebagai Sakristi pada perayaan-perayaan besar gereja yang melibatkan banyak petugas liturgi, termasuk kalau uskup hadir.

Sedangkan di lantai 2 terdapat ruang St Lusia, Yashinta, dan St Francesko. Ruang St Lusia sendiri merupakan ruang perpustakaan. Berbagai buku rohani dan penting lainnya dipajang di lantai 2 ini dan setiap umat dapat memanfaatkannya untuk membaca buku-bukro rohani di perpustakaan tersebut.
Keluar dari ruang St Tarsisius, terdapat ruang St Maria. Bangunan ini juga terdiri dari dua lantai, lantai atas terdapat ruang St Yoseph.

Ruang St Maria sendiri digunakan untuk pertemuan Legio Maria, tetapi setiap minggu digunakan untuk kegiatan sekolah minggu atau bina iman anak.
Karena itu, bagi orangtua yang membawa anak kecil saat Misa, sebaiknya membawa anaknya ke ruang ini dan tak perlu khawatir, karena para Pembina iman anak akan menjaga dan mengajari mereka berdoa dan bernyanyi sementara orangtuanya mengikuti Misa secara terpisah.

Di sisi kiri gedung gereja, terdapat ruang serbaguna atau ruang pertemuan dewan paroki pleno. Ruang ini pun juga digunakan setiap perayaan Misa, karena ruang gereja tidak bisa menampung umat yang begitu banyak.

Namanya serbaguna, ruang ini memang sering digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari ramah tamah hingga seminar.Bangunan lain yang termasuk kompleks gereja St Markus adalah toilet yang letaknya ada di sisi kiri depan gereja. Kalau masuk dari Jl Kerinci, lalu belok ke kiri, akan ditemukan toilet pria lebih dulu baru toilet wanita yang lebih luas.

Sekretariat WP dan Paroki
Di samping toilet terdapat ruang Warta Paroki. Di ruang ini yang merupakan dapur atau redaksi Warta Paroki dan website www.Sanmardepok.com yang merupakan perpanjangan tangan Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) bekerja.

Bagi umat yang berusan dengan Warta Paroki atau portal, seperti ingin menyampaikan informasi kegiatan di wilayah dan lingkungan atau paroki dapat mengunjungi ruang ini. Umat yang ingin memasang iklan atau pengumuman penting terkait paroki juga dapat menghubungi sekretariat WP dansanmardepok.com tersebut.

Ruang yang penting bagi umat adalah sekretariat paroki St Markus Depok II Timur. Ruang ini bersebelahan dengan sekretariat WP dan biasaya terbuka setiap Kamis hingga Sabtu sore.
Bagi umat yang mau mengurus atau ingin tahu informasi seputar agenda paroki ini dapat mengunjungi ruang sekretariat paroki. Misalnya, informasi tentang alamat pengurus dewan paroki, wilayah dan lingkungan atau seksi.

Juga informasi soal pelayanan permandian bayi, anak-anak dan dewasa, pelayanan persiapan perkawinan, komuni pertama, krisma, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun kematian.
Bangunan lainnya adalah pastoran yang merupakan kediaman pastor atau imam paroki termasuk frater atau tamu paroki.
Bangunan ini letaknya di sisi paling kiri gereja dan menjadi tempat pastor menerima tamu untuk urusan rohani. Bangunan terakhir adalah halaman parkir yang letaknya di depan gereja atau Jl Kerinci.

Tempat ini awalnya adalah rumah yang kemudian dibeli oleh paroki, kemudian bangunan rumahnya dirobohkan dan diratakan menjadi lapangan. Namun, lapangan ini biasa juga digunakan untuk perayaan seperti prosesi oerarakan Minggu Palem, yakni peringatan perarakan Yesus disambut masuk Yerusalem seminggu sebelum pekan suci pada masa prapaskah setiap tahun.

Sejak 2013 ketika Romo Antonius Dwi Haryanto memasuki tahun ke lima sebagai pastor paroki St Markus Depok, halaman gereja pun dipasangi kanofi, sehingga umat tidak khwatir lagi kehujanan atau tersengat sinar matahari ketika terpaksa duduk di luar, karena gereja penuh saat perayaan Ekaristi.

Pemasangan kanofi ini juga bisa menambah kapasitas tempat duduk umat dan sekaligus bisa menghemat biaya pada saat perayaan Natal dan Paskah, karena biasanya menggunakan tenda sewaan.

Setiap romo yang bertugas di paroki ini, selalu punya andil dan sentuhan terhadap perkembangan gereja. Semoga setiap umat pun memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap gereja Paroki St Markus Depok II Timur ini, sehingga mereka bercahaya dan bersinar bagi masyarakat di sekitarnya. Semoga bermanfaat

(Ditulis dari berbagai sumber maupun wawancara oleh Marselius Rombe Baan/Ketua Komsos Periode 2012-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*