Pandangan Gereja tentang Devosi kepada Bunda Maria

 

Bunda Maria

Bunda Maria

SANMARDEPOK.COM- Gereja membedakan antara penyembahan (Latria) yang hanya dibaktikan kepada Allah saja dan penghormatan (Dullia) yang di haturkan kepada para orang kudus. Penghormatan kepada orang/para kudus pada umumnya berbentuk devosi.

Orang/para kudus sama seperti kita. Hanya saja dalam perjuangannya iman mereka telah setia dan mencapai kemenangan! Kini, para kudus telah ada bersama Allah di surga,….. “Karena sama seperti orang akan di hidupkan kembali dalam Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.” (1 Korintus 15: 22-23).

Para kudus telah mencapai kemenangan dalam perjuangannya dan sekarang mereka telah bersama Allah di Surga. Kita yakin bahwa doa-doa mereka lebih didengar karena mereka telah menikmati hubungan akrab dengan Tuhan. Bantuan dan dukungan doa mereka bagi kita tentulah sangat berguna. Jadi, kita mohon mereka untuk menjadi pendoa bagi kita.

Penampakan Bunda Maria

Salah satu orang kudus yang dimiliki Gereja adalah Bunda Maria. ‘Bicara tentang Bunda Maria tak akan ada habisnya!!!’ Bahkan di tambah dengan bertia-berita sensasional seperti‘Maria yang menangis air mata darah’ atau ‘Maria menangis air mata madu’.

Namun, menurut catatan Gereja Katolik dalam sejarah sudah banyak terjadi penampakan Bunda Maria (Santa Maria). Ada yang sudah diakui secara resmi oleh Gereja Katolik, yang lainnya masih dalam proses penyelidikan. Gereja Katolik selalu mengambil sikap sangat hati-hati tidak terlalu cepat mengakui semua penampakan-penampakan itu.

Perlu kita ketahui bersama bahwa devosi kepada Bunda Maria dan ibadat sekitar Ibunda Yesus merupakan perkembangan dan kelanjutan, dari devosi kepada para martir. Setelah agama Kristen maenjadi agama resmi melalui Edict Konstantinus di tahun 333, zaman para martir sudah tidak lagi. Maka gagasan para martir mulai dirohanikan, bukan hanya mereka yang sudah mati demi membela Kristus yang serupa dengan-Nya, tetapi mereka yang hidup demi Kristus dan menjadi serupa dengan-Nya akan menjadi sahabat-Nya dan menjadi orang kudus.

Maka sejak abad ke-4, orang kudus dan bukan lagi martir mulai dihormati. Ibu/Bunda Yesus pun dipandang sebagai orang kudus, martir secara ‘rohani’. Umat mulai menghormati Maria dan berdoa kepadanya. Doa pertama yang ditujukan kepada Maria adalah Santa Maria Bunda Allah.

Pada tahun 431 Konsili Efesus memberikan gelar resmi Bunda Allah kepada Maria, sehingga semangat umat berdevosi kepada Maria semakin berkobar.

Sejak abad ke-17 dan sepanjang abad pertengahan, devosi kepada Maria semakin pesat perkembangannya dan tak terkendali. Devosi rakyat/umat ini mempengaruhi ibadat secara resmi dan pesta-pesta Maria pun bertambah terus-menerus.

Tetapi, ibadat resmi itu tertuju umumnya kepada Allah sendiri bukan kepada Maria sambil menerangkan berbagai peristiwa yang erat berkatian berbagai peristiwa yang berkaitan dengan Yesus. Misalnya, Pesta Kabar Gembira, Maria mempersembahkan Yesus di bait Allah, dan lainnya.

Ada dua hal ekstrem yang harus dijauhkan dalam sikap seseorang terhadap devosi terhadap Bunda Maria. Pertama, godaan untuk melebih-lebihkan peran Ilahi dalam karya penyelamatan! Dalam argumen ini Allah tidak perlu kerja sama manusia. Alasannya, manusia tidak punya peran apa-apa, sehingga tidak seorang pun, termasuk dengan Maria layak dihormati. Karena penghormatan seperti itu akan mengurangi kemuliaan yang hanya ditujukan kepada Allah. Akibat dari ekstrem ini muncul apa yang disebut Mariaphobia.

Kedua, godaan yang kedua, yakni melebih-lebihkan peran manusia dalam karya penyelamatan sampai melalaikan Ilahi. Argumen ini menegaskan bahwa Allah membutuhkan sarana untuk menghadirkan diri.

Dan sarana paling nyata adalah Yesus Kristus yang lahir dari rahim Maria. Akibat yang muncul dari eks ini, orang/umat berkeyakinan bahwa ‘sarana saja sudah cukup’. Hormati Maria saja sudah lumayan atau dengan ungkapan lazimnya Maria Centriscime.

Gereja Katolik mengajukan agar setiap anggotanya/umatnya membangun penghormatan yang benar dan sehat terhadap Bunda Maria, sifat terbuka pada keibuan Maria. Keibuan Maria terhadap  kehidupan Gereja ‘sungguh-sungguh’ memberi inspirasi Gereja.

 

Bentuk-bentuk Devosi.

 Pertama, doa kepada Maria

Sudah umum bahwa banya berdoa kepada Maria. Tetapi, harus dimengerti doa pujian, syukur dan permohonan itu pertama ditujukan kepada Allah!!! Karena itu, umat mohon doa kepada Bunda Maria. Doa-doa itu antara lain:

1.    Salam Maria. Doa yang agak umum dan resmi kepada Maria adalah doa Salam Maria. Doa ini muncul secara lengkap baru si tahun 1500. Bagian dari doa Salam Maria yang pertma sebenarnya merupakan ‘rangkaian’ dari ‘Salam Malaikat’ kepada Maria. (Likas 1: 28) dan Pujian Elisabet ketika ia mendapatkan kunjungan Maria (Lukas 1: 42). Pujian ini memang ‘terarah’ pada Maria sebagai pilihan Alah. Sedangkan, bagian kedua adalah doa permohonan yang tertuju kepada Maria, supaya Maria mendoakan kita si pemohon doa.

2.    Doa Malaikat Tuhan (Angelus Domini). Doa ini mulai abad ke-16 di Gereja Barat, tersebar kebiasaan mengucapkan Doa Malaikat Tuhan tiga kali sehari (pagi, siang, dan senja). Lonceng-lonceng Gereja dengan cara khusus dibunyikan sebagai tanda waktu mulai berdoa. Inilah yang sering disebut dengan Angelus Domini.

3.    Doa Ratu Surga. Doa ini adalah doa yang sering dideraskan sebagai pengganti Doa Malaikat Tuhan di masa Paskah.

4.    Doa Rosario. Doa ini tidak jauh berbeda dengan Doa Malaikat Tuhan. Doa Rosario ini juga berfungsi sebagai pengganti doa harian resmi.

5.    Doa Litani Santa Maria. Doa Rosario biasanya digabungkan dengan Litani Santa Maria. Litani ini adalah salah satu dari ‘enam litani’ yang secara resmi diterima Gereja Katolik Roma.

6.    Doa Novena (tiga salam Maria). Novena Maria merupakan perkembangan dari Novena kepada para martir. Menyatukan doa-doa para kudus melalui Bunda Maria untuk pengampunan dan pelbagai kepentingan.

 

Kedua, Patung dan Gambar Maria

Devosi Maria, umat Katolik sering dihayati juga seputar patung dan gambar Maria. Gereja-gereja Katolik biasanya dihiasi berbagai macam gambar dan patung, Patung Yesus, Patung Maria, Patung Para Kudus. Dan di antara patung-patung dan gambar-gambar yang ada biasanya patung dan gambar Maria menempati kedudukan paling depan. Patung dan gambar itu ‘bukan sekedar’ karya seni yang sangat berharga, tetapi menjadi ‘sasaran devosi’ yang boleh jadi sangat hangat dan emosional.

 

Ketiga,  Ziarah

Kebiasan berziarah di kalangn umat kristen baru di mulai tahun 200, yakni berziarah ke makam-makam para martir. Martir pun menjadi sasaran devosi yang disalurkan melalui ziarah. Jumlah tempat ziarah yang disangkut-pautkan dengan Maria dapat dikatakan hampir tiap hari bertambah.

Tempat-tempat itu biasanya dikaitkan dengan penampakan dan dikaitkan dengan legenda setempat. Tentang kebenarannya memang ini sebenarnya ‘tidak datang’ dari ‘dorongan religiositas wajar dan alamiah kebutuhan manusia yang bersifat jasmaniah’. Pergi berziarah itu ‘tidak diwajibkan’.

Keempat, Penampakan Maria

Sesuatu gejala yang berperan dalam devosi Mariabagi umat Katolik adalah adanya penampakan Maria. Penampakan dinilai benar cukup pasti bahwa gejala itu berasal dari Allah. Dinilai tidak benar dan palsu bila cukup pasti bahwa gejala itu dapat dijelaskan berdasarkan faktor-faktor psikologis atau parapsikologis. Ukuran benar dan tidaknya adalah psikologis/medis maupun teologis.

Demikianlah sedikit sharring saya melalui tulisan ini tentang pandangan Gereja mengenai devosi kepada Bunda Maria yang dapat saya sajikan. Meskipun Bulan Mei yang dikenal sebagai Bulan Maria telah berlalu, devosi terhadap Bunda Maria, Bunda Yesus, tetaplah relevan. Semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan rohani kita tentang karya Penyelamatan Yesus melalui peran Bunda Maria. (Dari berbagai Sumber/Sie Kitab Suci/Y. Eko Putranto)