Maria Bahagia Punya Anak Seorang Pastor

SANMARDEPOK.COM- Maria Fransiska Asfiah menjadi salah satu bintang tamu yang berbicara di podium Gereja Paroki Santo Markus Depok II Timur pada Minggu Panggilan, tanggal 21 April 2013. Ia penuh semangat mengisahkan liku-liku mendidik anak, termasuk semula berat hati melepas si buah hati masuk seminari, walaupun akhirnya mengikhlaskannya menjadi imam.

Pastor Paroki Antonius Dwi Haryanto mengundang Maria memberi kesaksian setelah dua frater mengisahkan perjalanan panggilan yang dialaminya, Frater Stefanus Aries Triyanto Wibowo, dan Frater Jeremias Uskono atau Fr Jemy.

Pada perayaan misa Minggu (21/4/2013) pukul 07.00 WIB, sejumlah anak bina iman dijadikan model suster, romo, bahkan uskup cilik. Mereka didandani layaknya suster yang mengenakan kemeja terusan putih plus kerudung putih, pastora yang mengenakan jubah plus stola, serta uskup mengenakan pakaian liturgis kebesarannya antara lain jubah, tongkat, dan mitra kepala (penutup kepala mirip piramida berwarna keemasan).

Maria mengisahkan perjalanan Agustinus Bayu Suseno menjadi romo. Putra sulung pasangan Januarius Soetojo dan Maria Fransiska Asfiah, merupakan umat Paroki Santo Markus yang tinggal di Jalan Maninjau II No 10, Depok, Jawa Barat, Lingkungan St Brigitta, Wilayah Benediktus.

Agustinus Bayu Suseno ditahbiskan menjadi pastor pada hari Senin, 8 Desember 2008 oleh Uskup Bogor Mgr Michael Cosmas Angkur OFM di Paroki Kristus Raja Serang, Banten. Setelah penahbisan, namanya bertransformasi menjadi Romo Arsenius Viccar CSE. Nama tersebut dipakai sampai saat ini.

Sebulan kemudian, tepatnya 11 Januari 2009, umat Paroki Santo Markus, Depok II Timur mendapatkan kesempatan yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni misa perdana persembahan romo, yang semula umat di gereja ini. Keluarga besar mendiang Januarius Soetojo, turut serta dalam misa.

Maria menuturkan, Arsenius kecil sering kali mengikuti Bapak Sumarno (almarhum)  menghadiri misa di gereja. Dan sejak kecil, Arsen merupakan sosok serius. Berbeda dengan teman-temannya seusia murid SD, ia justru jarang bermain dengan temannya. Dia di rumah saja. “Tapi begitu lulus SMP, dia bilang ke saya, mau masuk seminari. Saya sih tidak melarang, tapi saya bilang, ikuti saja prosesnya,” kata Maria mengenai putra sulungnya, dari empat bersaudara.

Romo Arsenius lulus SMP, tidak jadi masuk seminari. Dia sekolah sampai SMA. Selulus SMA, Arsenius menyampaikan kembali kepada ibunya mengenai niat menjadi seminaris, calon imam.

“Tapi saya tahan lagi. Tolonglah nak, tolong kamu bantu mama, membersihkan rumah, dan menjaga adik-adikmu,” kata Maria.

Ibu berbadan ramping ini memang mengaku sangat khawatir terhadap anak-anaknya. Banyak persoalan yang sering merusak anak muda, seperti peredaran dan penyalahgunaan narkoba sangat marak. Dan Arsen betul-betul menjalankan perinthah ibunda, menjaga adik-adiknya. “Dia sudah membantu saya di dapur, sejak pagi. Dan dia juga bisa menjaga adik-adiknya”.

Karena dilarang ibunda masuk seminaris, anaknya itu menempuh ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) dan lulus di Universitas Indonesia. Ia tetap rajin gereja, misa pagi. Sepulang kuliah, dia membantu ibunya lagi.

“Sekarang, tugas di Pontianak. Sekarang doa saya, semoga anak saya ini benar-benar mantap jadi imam. Ramah kepada siapa pun, dan melayani dengan kasih,” kata Maria Fransiska berharap.

Selepas memberi testimoni, Romo Anton yang masih berdiri di belakang altar bertanya kepada Maria. “Bu, saya ingin bertanya,” kata Romo. “Apakah ibu bahagia, anaknya menjadi imam?” Mari menjawab dari mimbar sebelah kanan, “Bahagia Romo.” “Bahagia sekali?” imbuh Romo Anton. “Ya, sekarang bahagia sekali romo,” kata Maria.

 Asal Papua dan Medan

Seusai misa, minggu panggilan dilanjutkan dengan dialog frater dan dua suster di aula. Dua suster itu adalah Suster Maria Klementis Gabriela SFS (Suster Fransiskan Sukabumi) blasteran Flores dan Papua. Suster lainnya adalah Suster Maria Eleonara PRR (Putri Renya Rosari). Dia asli Medan, tapi terpanggil jadi suster biara dari Flores.

Dalam dialog itu Frater Stefanus Aries Triyanto Wibowo dan dua suster tadi dicecar anak bina iman dan remaja dengan berbagai pertanyaan mulai dari hobi hingga pacar. Frater Aries  sendiri  berasal dari Paroki St Markus Depok II Timur.

Semoga, Aries adalah putra terbaik kedua paroki ini setelah Romo Arsen yang terpanggil dan dipilih jadi pelayan dan gembala. Dan semoga makin banyak orangtua seperti Maria Fransiska Asfiah yang ingin bahagia dengan merelakan putra putrinya jadi biarawan biarawati.  (Domu D Ambarita/Marselius Rombe Baan/Komsos)