RD Agustinus Suyatno: Banyak Pelajaran Iman dari Perayaan Paskah Nuansa Toraja

Umat diiringi tarian dan gendang mengusung persembahan dalam Lettoan menuju altar yang disambut para pastor dalam perayaan Paskah nuansa budaya Toraja di Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Sabtu (14/4/2018) malam

CIBINONG, SANMARDEPOK.COM

Suasana perarakan dengan atraksi pa’randing dalam perayaan Misa Paskah nuansa budaya Toraja di Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Sabtu (14/4/2018) malam.

Perayaan Paskah (kebangkitan Yesus Kristus) bertajuk Bersatu dalam Kebinekaan Nuansa Budaya Toraja di Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong (PKKC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/4/2018) malam, berlangsung meriah. Gereja yang berkapasitas 3.000 umat itu dipenuhi dengan warga Katolik asal Toraja maupun umat setempat.

Warga Toraja tersebut tergabung dalam Persekutuan Umat Katolik Toraja (Pukat) yang datang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cikarang (Jabodetabeci). Perayaan Misa Paskah nuansa budaya Toraja ini dipimpin (selebran utama) RD Alfonsus Sombolinggi asal Toraja didampingi Pastor Paroki PKKC RD Agustinus Suyatno, RD Hendrik, dan dua pastor dari Keuskupan Agung Makassar asal Toraja, yakni RD. Agustinus Sempora dan  RD Fransiskus Fandy.

Perayaan diawali dengan perarakan dengan ondo pua (tari tradisional yang biasa sebagai ungkapan kegembiraan ala Toraja) sebagai tanda sukacita lalu dilanjutkan pembacaan passinggi’ (pantun ucapan syukur dan selamat datang) serta kisah kematian hingga kebangkitan Yesus Kristus. 

Di barisan paling depan adalah pasukan pa’randing yang berpekik lalu dibalas dengan teriakan khas Toraja , Ai hihi 3x yang dikenal dengan meoli sebagai ungkapan sukacita Paskah ala Toraja. 

Sesudah pasukan pa’randing, disambung dengan kelompok penari pa’gellu oleh gadis toraja yang diiringi gendang, kemudian disusul barisan para pemuka masyarakat. Mereka dengan pakaian khas Toraja ini menutup barisan nuansa Toraja.

Dari belakang juga disusul barisan misdinar, lektor (pembaca Sabda Tuhan) dan pemazmur dengan pakaian khas Toraja. Pada bacaan kedua, dilakukan dalam bahasa Toraja dari 1 Yohanes 2 : 1-5a yang dibacakan oleh Marselius Rombe Baan dari Depok.

Barisan ini disambung oleh prodiakon dan ditutup para pastor. Perarakan ini diiringi dengan lagu Puangku yang dipersembahkan paduan suara Parkekuci salah satu kelompok kor di PPKC yang anggotanya banyak orang Toraja.

Di antara yang hadir tampak mantan Bupati Toraja, Tarsis Kodrat, Ketua Pukat Jabodetabeci Michael Andin, Ketua Forum Umat Katolik Toraja Luther Patiung dan sejumlah tokoh Toraja yang berdomisili di Jabodetabeci dan sekitarnya.

Dalam khotbahnya, Pastor Agustinus Sempora yang sedang studi antropologi di Universitas Indonesia, diawali dengan membaptis semua yang hadir menjadi orang Toraja dengan mengajak umat yang hadir termasuk yang non-Toraja mencoba pekikan meoli. Dan Pastor Agustinus Sempora pun berhasil melakukan pembaptisan, karena umat pun antusias melakukannya hingga suasananya benar-benar khas Toraja, namun tetap sakral. 

Pastor Zem banyak menjelaskan rumah tongkonan (rumah adat) dan alang (lumbung) yang ada di latar altar sebagai simbol ibu dan ayah dalam konteks keluarga. Dalam budaya orang Toraja dan umat Katolik pada umumnya, keluarga merupakan hal penting, sehingga Paus Yohanes Paulus II pun pernah menegaskan bahwa kalau keluarga kuat, maka Gereja pun sebagai keluarga besar umat beriman kepada Yesus akan kuat.

Sementara itu, Pastor Paroki Keluarga Kudus Cibinong RD Agustinus Suyatno dalam kata sambutannya sebelum Misa ditutup dia mengakui banyak belajar dari umat Katolik Toraja lewat perayaan ini. Misalnya, ada hiasan gayang (keris) sebagai simbol laki-laki, dan kandaure (anyaman dan gulungan manik-manik) yang indah nan cantik sebagai simbol perempuan. Ini artinya, keluarga memang mengambil peranan penting dalam kehidupan dan itu hendaknya menjadi perenungan semua umat.

Sedangkan Ketua Panitia Caracciolus Birana (Olus), mengucapkan terima kasih kepada Pastor Paroki Cibinong yang bersedia menjadi tuan rumah acara Paskah bernuansa Toraja dalam tema kebinekaan ini. Juga kepada umat setempat yang terlibat sebagai tata tertib, misdinar, dan prodiakon.

Seusai Misa Paskah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah warga Toraja dan umat setempat. Ramah tamah ini berkangsung di aula gereja lama Cibinong dengan sajian makanan khas Toraja di antaranya pa’piong (daging dimasak dalam bambu), pantollo burak (ayam dimasak dengan batang pisang), juga minuman tuak yang selalu ada dalam pesta orang Toraja di samping kopi dan deppa tori.

Suasana perayaan Paskah bernuansa budaya Toraja di Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Sabtu (14/4/2018) malam.

Momen ini juga sekaligus sosialisasi atas pembangunan pusat ziarah keluarga kudus dari Nazaret (Yesus, Maria, dan Yusuf) yang saat ini sedang dilakukan di Sa’pak Bayobayo, Sangalla, Tana Toraja, Sulawesi Selatan oleh Ketua Pukat Michael Andin dan seksi keuangan Yohanes Massora.

Pusat ziarah ini merupakan yang pertama di luar Nazaret sendiri. Karena itu, wisata rohani ini sangat penting, terlebih karena lokasinya sangat alami, sehingga mendukung tumbuhnya iman yang kuat akan Yesus Sang Juruselamat dari semangat kebersamaan dalam keluarga kudus Nazaret seperti dituangkan dalam subtema perayaan Paskah Pukat ini, yakni Harmoni Semesta Berbasis Keluarga. (Marselius Rombe Baan/Komsos Paroki St Markus Depok Timur)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*