Paus Fransiskus Samakan Berita Bohong dengan Jebakan Setan

Paus Franciskus Menggambarkan Fake News sebagai Ajaran Setan. Paus Francis mengatakan wartawan dan pengguna media sosial harus menghindari dan melepaskan manipulasi "taktik ular" yang dapat memicu perpecahan. Foto/ www.dvhn.nl

SANMARDEPOK.COM, VATIKAN – Pemimpin spiritual Katolik sedunia, Paus Franciskus mengutuk kemunculan berita palsu atau bohong (hoax) dan menyebutnya sebagai ajaran setan. Dia mengatakan, wartawan dan pengguna media sosial harus menghindari dan melepaskan manipulasi “taktik ular” yang memicu perpecahan untuk melayani kepentingan politik dan ekonomi.

“Berita palsu adalah pertanda sikap tidak toleran dan hipersensitif, dan hanya mengarah pada penyebaran kesombongan dan kebencian. Itulah hasil akhir dari ketidakbenaran,” kata Paus Fransiskus dalam dokumen pertama oleh seorang paus mengenai masalah ini, seperti dilansir Reuters pada Rabu (24/1/2018).

Dokumen tersebut dikeluarkan setelah berbulan-bulan perdebatan tentang seberapa banyak berita palsu yang mungkin mempengaruhi kampanye Presiden Amerika Serikat (AS) pada 1990 dan pemilihan Presiden Donald Trump.

“Menyebarkan berita palsu dapat digunakan untuk memajukan tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan melayani kepentingan ekonomi,” tulisnya, kemudian mengutuk penggunaan manipulatif dari jejaring sosial dan bentuk komunikasi lainnya.

Dia kemudian menyatakan bahwa Kebenaran akan membebaskan semua orang dari berita palsu dan jurnalisme hanya digunakan untuk perdamaian. Dokumen tersebut dikeluarkan sebelum Hari Komunikasi Sosial Gereja Dunia pada tanggal 13 Mei.

Dokumen ini dikeluarkan bersamaan dengan peringatan Pesta Hari Raya Santo Frans de Sales, Rabu (24/1/2018). Orang kudus ini merupakan santo pelindung para jurnalis atau wartawan.

“Berita palsu tapi bisa dipercaya ini ‘captious’, karena menggenggam perhatian orang dengan memikat stereotip dan prasangka sosial umum dan mengeksploitasi emosi sesaat seperti kegelisahan, penghinaan, kemarahan dan frustrasi,” ungkapnya.

Berita palsu, kata Paus Fransiskus, menyebar dengan sangat cepat, sehingga penolakan otoritatif pun seringkali tidak dapat menahan kerusakan yang terjadi dan banyak orang berisiko menjadi kaki tangan yang bersedia menyebarkan gagasan yang bias dan tidak berdasar.

Dia meminta adanya sebuah pendidikan atau pembelajaran yang akan membantu orang membedakan, mengevaluasi dan memahami berita untuk mengenali mana rayuan licik dan berbahaya yang masuk ke dalam hati dengan argumen palsu dan memikat dan mana berita yang sebenarnya.

Paus Francis kemudian membandingkan penggunaan berita palsu dengan kisah di Alkitab tentang setan, yang menyamar sebagai seekor ular, membujuk Hawa untuk memakan buah dari pohon terlarang.

Dia mengatakan bahwa dia (Hawa) diberi informasi yang salah oleh Setan, yang mengatakan kepadanya bahwa buah itu akan membuatnya dan Adam menjadi seperti Tuhan.

“Kita perlu membuka topeng apa yang bisa disebut ‘taktik ular’ yang digunakan oleh mereka (penyokong berita palsu) yang menyamarkan diri mereka untuk menyerang setiap saat dan di banyak tempat,” ujarnya.

(Dikutip dari Reuters seperti dilansir international.sindonews.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*