Frans Wawancara dengan Dirinya soal VUCA Era

Illustrasi

SANMARDEPOK.COM – Banyak peristiwa yang terjadi di sekitar kita setiap hari.Banyak contohnya yang bisa kita baca dari koran atau berita melalui televisi atau hp kita. Rasanya tidak ada yang baru dari pernyataan ini.

Misalnya: orang bunuh diri, membunuh supir taksi, kecelakaan lalu lintas, perbedaan pendapat, debat, konflik antarpribadi dan lain-lainnya.

Bukankah semua itu sudah menjadi pengetahuan kita sehari-hari, yang sepertinya sudah kita mengerti? Lalu kita kembali ke tempat kita masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan kita sendiri.

Mengapa kita tidak menyelidiki dengan seksama, agar kita bisa sungguh dengan tenang menjalani kehidupan ini? Menjalani kehidupan seperti ini, lalu orang membuat istilah “VUCA era”. Berikut ini wawancara antara “Saya (F) dengan saya f”.

F : Tahukah kamu, frans, arti istilah VUCA?

f : VUCA itu singkatan kata, yang terdiri dari volatility, uncertainty, complexity, ambiguity. Kita membuka kamus, maka artinya adalah gampang menguap seperti gas, ketidakpastian, kompleksitas dan keragu-raguan.

Istilah yang menggambarkan situasi batin dan pikiran orang-orang di masa sekarang ini. Lalu kita menemukan kata galau, bingung, takut, gampang marah, emosional.

F : Lalu apa sikap yang kita perlukan untuk mampu atau malahan tidak mampu mengatasi vuca tersebut?

f : Bagus pernyataan itu sebagai sebuah kesadaran yang mau menimba kehidupan batin atau inner life yang ada dalam diri kita.

Pernyataan ini juga tidak baru. Bukankah telah kita lakukan sebagai orang beriman dengan membaca firman Tuhan dan mengikuti ekaristi setiap minggunya? Bukankah firman bertujuan untuk menegur dan mengajar, sehingga firman sungguh tinggal di hati kita.

F : Bapak f, sadarkah engkau akan arti kita atau kami? Misalnya, dalam tulisan ini sudah banyak ditulis kata “kita”.  Tolong jelaskan arti kita itu.

f : Sebagai orang Katolik, kita telah berhimpun dalam kelompok-kelompok, seperti lingkungan dan wilayah. Kita pun mempunyai berbagai kelompok, seperti koor, seksi-seksi dalam paroki, wanita Katolik.

Semua kelompok ini mengandaikan kesadaran pribadi dan kelompok.Kritik-kritik timbul bahwa kita belum menjalankan komunitas yang diharapkan. Kita baru berupa gerombolan atau kerumunan orang banyak.Sebenarnya kita membutuhkan sesuatu yang lain berupa alat ukur untuk penapaian kwalitas dari segala energi yang kita keluarkan..

F : Apa saran saudara untuk meningkatkan mutu kehidupan bersama kita?

f : Tidak ada yang lain, kecuali kita melakukan ‘learning by doing’, bersama kita menciptakan sesuatu dan mampu beradaptasi dalam sebuah kelompok inti. Kelompok seperti itu terdiri dari 5 orang dan belajar tentang 4 tingkat dalam sebuah percakapan.

Sudahkah ada kelompok seperti itu dalam umat kita di Paroki ini? Kalau belum ada, maka perlu kita ciptakan. Dulu pernah kita diperkenalkan dengan komunitas basis. Tapi entah mengapa kita tidak mampu mewujudkannya secara nyata untuk kehidupan kita sehari-hari.

F : Santo Fransiskus Asisi telah mengingatkan bahwa kita belum berbuat banyak sampai saat ini. Juga ia mengingatkan, agar kita mau mulai lagi dan mulai lagi dan lagi. Sebenarnya apa yang dialami oleh umat manusia ini?

Illustrasi. VUCA Era

f : Ada yang disebut Law of Iceberg, yaitu hukum gunung es. Besarnya 90% yang kita sebut sebagai Alam Bawah Sadar. Sedangkan hanya 10% yang kita sadari, berupa apa yang kita lihat dan rasakan.

Kita ingat kapal Titanic yang pecah, ketika menabrak gunung es di awal abad 19 yang lalu.

Keyakinan mereka untuk mampu menembus permukaan gunung es yang kelihatan ternyata kandas.

Untuk itu kita perlu mengenali alam bawah sadar yang ada dalam diri kita dengan baik. Berbagai pelatihan perlu kita lakukan. Semoga studi ini tidak bernasib sama dengan pengenalan komunitas basis yang boleh dikatakan mandek sejak diperkenalkan di tahun 2005. Siapa mau bergabung dalam studi ini? (Frans Tantri Dharma/Wil St Fransiskus Xaverius)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*