Mau Kawin, Siap Mengampuni!

SANMARDEPOK.COM- Kalau seandainya pasangan Anda nanti setelah kawin, ketahuan selingkuh, apakah Anda mau memaafkan dia? Pertanyaan itu dilontarkan Pastor Paroki St Markus Marselinus Wahyu Dwi Harjanto kepada seorang pria peserta Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang digelar Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki St Markus yang kini diketuai Ibu Julia Handoyo, Minggu (10/9/2017) lalu.

Pertanyaan itu dilontarkan Romo Wahyu dalam sesi pembekalan menjelang penutupan, dan calon pengantin yang ditanya pun sepertinya tidak siap. Tetapi, setelah didesak, akhirnya dia mengatakan tidak akan menerima dia lagi (istri) itu.

Pernyataan itu pun membuat kaget wanita calon pasangannya yang duduk di sampingnya. Dan Romo Wahyu pun menantang mereka, ayo mumpung masih ada kesempatan, apakah jadi tetap mau nikah atau mengakhiri hubungan dari seakarang secara baik-baik?
“Silakan dipikirkan sebelum telanjur,” pinta Romo Wahyu lagi.

Calon pasangan itu pun seperti galau dengan tantangan Romo Wahyu tersebut. Tetapi, ketika calon pasangan lain diberi pertanyaan serupa, prianya langsung menjawab tanpa beban, saya akan tetap menerima dia dan wanita calon pasangannya yang duduk di depannya hanya senyum-senyum.
Pertanyaan itu memang kelihatan sepele, tetapi penuh makna, dan sengaja dilontarkan oleh Romo Wahyu. Bukan kebetulan, karena bacaan Injil minggu itu bicara soal pengampunan.
Ketika Petrus bertanya kepada Yesus, sampai berapa kali kita harus mengampuni, apakah cukup tujuh kali? Yesus menjawab, bukan tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh puluh kali. Suatu jumlah yang tak terbatas.

Yesus memang memastikan bahwa pengampunan itu tidak ada batasnya. Dan syarat seseorang diberi pengampunan adalah ketika dia mengampuni sesamanya yang bersalah.
Dalam konteks perkawinan, khususnya secara hukum Gereja Katolik, tidak dikenal adanya perceraian. Sebab itu, perkawinan hanya bisa diakhiri oleh maut, atau perkawinan seumur hidup dan monogami.

Lalu, kalau di kemudian hari ada perselingkungan, apakah dimaafkan begitu saja dengan alasan tidak bisa bercerai? Tentu saja, sulit dijawab, apabila hanya melibatkan emosi jiwa manusia.
Tetapi, apa yang mau dipesankan Romo Wahyu adalah bahwa hendaknya dalam perkawinan, pasangan Katolik harus sungguh-sungguh menjaga kesakrlan dari perkawinan tersebut. Jangan sampai salah satu pasangan berbuat dosa termasuk selingkuh, lalu timbul perselisihan hingga ingin bercerai.

Romo Wahyu berharap, setiap calon pasangan hendaknya sejak awal memperlajari karakter dari calon pasangannya sendiri, sehingga tidak menyesal seumur hidup. Kalau sekiranya calon pasangan itu mungkin sulit menyesuaikan satu sama lain, lebih baik pikir-pikir dulu untuk melangkah lebih jauh, agar tidak menyesal di kemudian hari.
Tetapi, Romo Wahyu pun mau menyampaikan bahwa tidak seorang pun sempurna. Bukan tidak mungkin yang satu berbuat salah, tetapi yang lain pun sebenarnya juga salah, sehingga hendaknya saling menerima apa adanya dan saling mengampuni, tetapi berarti perbuatan dosa dibiarkan, toh nanti dimaafkan.

Sebab, perbuatan dosa yang dilakukan secara sadar, artinya itu dilakukan meskipun tahu akibat dosanya, maka hukumannya lebih berat, sehingga jangan pula menjadi alasan bahwa dosa dianggap biasa saja. Hal yang lebih penting adalah kalau Tuhan saja maha pengampun, maka manusia pun hendaknya demikian. Semoga. (Marcel Rombe Baan/Komsos)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*